Modified from honeymoon

20121201-192409.jpg

53 lulusan Gizi diangkat 53 org tahun 2008

53 orang Nutritionist dibutuhkan jadi PNS Tahun 2009

Yang ditunggu-tunggu akhirnya muncu juga. Para Lulusan Sekolah/perguruan tinggi menunggu-nunggu kapan ada seleksi PNS. Koran SInggalang dan koran Lokal ainnya pada tangal 10 November, di hari Pahlawan ini mengumumkan persyaratan, jumlah dan lokasi penerimaan CPNS tahun 2008 ini. Terjawablah sudah teka-teki selama ini Apakah ada atau tidak seleksi CPNS taun ini’.

Berikut ini jumlah tenaga gizi (Nutritionist) yang aan diterima di Kab./Kota di Sumbar :

  1. Kab. Tanah Datar 2 orang

  2. Kota Padang 3 orang

  3. Kab. Solok Selatan 5 orang

  4. Kota Solok 3 orang

  5. Kab.  Pesisir Selatan 4 orang

  6. Kota Payakumbuh 2 orang

  7. Kab. Dharmas Ray 5 orang

  8. Kep. Mentawai 5 orang

  9. Kab. Agam 4 orang

  10. Kota Padang Panjang 2 orang

  11. Kab. Pasaman 1 orang

  12. Kab. Pasaman Barat 5 orang

  13. Kota Parianan 3 orang

  14. Kab. 50 Kota 5 orang

  15. Kab. Swl. Sijunjung 4 orang

  16. Kota Bukittinggi 0 orang

  17. Kota Solok 0 orang

  18. Kab. Pariaman 0 orang

  19. Kota Sawahlunt 0 orang

Baca Iklan, dapat Uang, apa ngaak Enak ?

Klik Gambar di atas, Lakukan registrasi (sig Up), Ingat username dan password yang digunakan. Kemudian Andaakan mendapatkan URL (alat situs) dengan Nomor Registrasi Anda di belakangnya. Catat alamat tersebut dan berikan ke teman-teman Anda. Setiap mereka melakukan registrasi Anda aan mendaptkan Bonus. Semuanya Grats, coba aja kalo ragu, ga bayar kok….!

web 2,0 upgrade

web 2.0 upgrade

webupgrade

Bisnis web 2,0 upgrade yang akan lounchng pada tanggal 1 Juli 2008, simak dan joinlah disana (klik banner di atas. see U there

My_Fam

my family

Saatnyakah kita terapkan NCP

mwngutip blog sebelah

Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menangani aspek kuratif dan rehabilitatif disamping beberapa pelayanan kesehatan yang lain. Dalam pelaksanaannya dibagi dalam beberapa instalasi, diantaranya adalah instalasi gizi yang tidak hanya menangani manajemen sistem penyelenggaraan makanan, akan tetapi juga menangani asuhan gizi dan penelitian serta pengembangan. Pelayanan gizi rumah sakit meliputi empat hal penting yaitu asuhan Gizi rawat inap, asuhan gizi rawat jalan, penyelenggaraan makanan, dan penelitian dan pengembangan penerapan gizi.

Harus disadari bahwa gizi mempunyai peran yang tidak kecil terhadap tingkat kesembuhan dan lama perawatan pasien di rumah sakit yang akan berdampak pada meningkatnya biaya perawatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kurang gizi sedang pasien di rumah sakit mencapai 21 % sedangkan kurang gizi berat mencapai 10 %. (Detsky at.al, 1987) dan penyebab kematian utama balita di negara-negara berkembang adalah kurang gizi sebesar 54 %.

Masalah gizi pasien di rumah sakit akan berdampak pada banyak hal, yaitu gangguan syaraf, pembedahan, kanker, aids, kejiwaan, dan gangguan gastrointestinal. Pada sistem metabolism tubuh, kurang gizi berdampak pada beberapa perubahan penting diantaranya penurunan tingkat filtrasi pada glomerular yang terjadi di ginjal, gangguan pada pertahanan intestinal di lambung dan saluran cerna secara umum, perubahan pada farmakokinetik dan perubahan pada fungsi kardiak pada jantung.

Beberapa dampak diatas akan banyak merugikan berbagai pihak, tidak hanya pasien, tetapi pihak rumah sakit dan semua yang berperan dalam pelayanan di rumah sakit akan mendapat dampak dari masalah gizi ini.

Pelayan Gizi Terstandar

Ada beberapa model pelayanan gizi yang dapat diterapkan di rumah sakit dan beberapa institusi pelayanan gizi masyarakat, namun tidak semua model pelayanan tersebut terstandar. Minimal ada 3 model pelayanan gizi yang banyak dikembangkan di institusi pelayanan kesehatan.

Pertama, dibawah ini adalah diagram pelayanan gizi yang tidak direkomendasikan, dimana masing-masing profesi, yaitu dokter, perawat dan dietician (Ahli Gizi) menangani pasien masing-masing tanpa adanya hubungan dan koordinasi antar profesi dan seorang dietetsien menyiapkan makanan sesuai dengan pemahamannya tanpa adanya informasi keadaaan pasien dari dokter maupun perawat yang menanganinya.

Kedua, model pelayanan gizi yang kurang lebih sama dengan model pelayanan gizi yang pertama, tetapi bentuk pelayanan dilakukan dengan team yang dikenal dengan nutrition support team (NST) terdiri dari dokter, perawat, farmasis, dan dietician. Pada model kedua ini juga tidak ada koordinasi diantara masing-masing profesi dalam satu pelayanan terhadap satu pasien, akan tetapi sudah menerapkan proses pelayanan terstandar yang dikerjakan dalam satu team. Salah satu kelemahan dari model pelayanan ini adalah banyaknya profesi yang harus terlibat dalam satu pelayanan pasien. Penerapan model ini pada umumnya pada rumah sakit yang mempunyai SDM yang cukup banyak. Model ini sudah menerapkan proses asuhan gizi secara team yang dikenal dengan NCP.

Ketiga, adalah model yang juga direkomendasikan, dimana pelaksanaan pelayanan gizi dilakukan dalam satu team dengan melibatkan dokter, perawat dan dietician. Keterlibatan masing-masing profesi dalam model pelatanan ini sangat maksimal dan terjadi koordinasi antar profesi, sehingga dalam memutuskan bentuk pelayanan yang akan diberikan kepada pasien mempunyai tujuan yang sama.

Nutrition Care Process (NCP)

Ilmu gizi merupakan salah satu ilmu (scince) yang selalu berkembang sesuai dengan perkembangan penyakit dan sosial ekonomi, lingkungan dan budaya. Sejak tahun 1952, ilmu gizi sudah mulai banyak dikenal di kalangan pemerhati gizi di Indonesia dan tahun 1958 mulai dikenalkan istilah “empat sehat lima sempurna” oleh bapak gizi Indonesia, Poerwo Soedarmo yang selanjutnya seiring dengan kemajuan dan perkembangan ilmu kesehatan secara umum dan kajian-kajian ilmiah tentang gizi dan kesehatan muncullah saat ini istilah “Gizi Seimbang” dengan 13 Pesan Gizi-nya sebagai panduan bagi masyarakat Indonesia.

Disamping perkembangan ilmu gizi sebagai scince, ternyata perkembangan ilmu gizi tidak hanya pada aspek ilmiahnya saja, akan tetapi perkembangan juga menyentuh aspek prosedural dalam menegakkan aspek-aspek gizi hubungannya dengan kesehatan dan penyakit. Jika di kalangan profesi gizi sebelum tahun 2003 bahkan sampai saat ini masih banyak menggunakan model SOAP (Subyektif, Obyektif, Assesment dan Planning) dalam menegakkan dan mencari berbagai masalah-masalah gizi pada individu maupun masyarakat, maka saat ini sudah mulai dikembangkan NCP (Nutrition Care Process) sebagai salah satu model dalam menegakkan masalah-masalah gizi yang dikenal dengan ND (Nutrition Diagnosis). Meskipun istilah NCP dan ND masih belum familier di telinga para profesi gizi, namun saat ini profesi gizi mau tidak mau dituntut untuk mengetahui dan melaksanakan model ini sebagai panduan sekaligus mengangkat performance profesi gizi.

NCP adalah suatu metoda problem solving yang sistematis, menggunakan cara berpikir kritis dalam membuat keputusan menangani berbagai masalah yang berkaitan dengan gizi dan memberikan asuhan gizi yang aman, efektif dan berkualitas tinggi.

Sesuai dengan definisinya, NCP merupakan cara pemecahan masalah gizi yang sangat efektif dan sistematis, karena proses yang ditempuh dalam NCP melalui tahapan-tahapan yang terstruktur dan sistematis, dimana untuk menentukan pemecahan masalah gizi harus melalui 4 tahap dan masing-masing tahapan sangat diperlukan pemikiran yang kritis dan mendalam.

Tahapan yang harus ditempuh meliputi Assesment Nutrisi ( Nutrition Assesment),

Diagnosa Nutrisi ( Nutrition Diagnosis), Intervensi Nutrisi ( Nutrition Intervention) dan Monitoring dan Evaluasi ( Nutrition Monitoring and Evaluation). Keempat tahapan ini merupakan tahapan yang harus ditempuh dalam menangani masalah gizi dan hal ini akan memberikan arah kepada ahli gizi kemana pasien/klien harus ditangani. Masing-masing tahapan harus dilalui secara terstruktur dan sistematik. Nutrition diagnosis tidak dapat ditegakkan tanpa utrition assessment. Nutrition ntervention juga tidak dapat dilaksanakan sebelum jelas nutrition diagnosisnya, dan seterusnya. Intinya empat tahapan itu itu dilaksanakan secara cermat dan kritis, sehingga menghasilkan sebuah penanganan masalah gizi yang tepat dan sesuai dengan masalahnya.

Nutrition assessment meliputi berbagai data yang diperlukan untuk menegakkan nutrition diagnosis, seperti data laboratorium, data antropometri, data behavior, data anamnesa gizi, dan lain-lain yang dapat dijadikan acuan untuk menegakkan nutrition diagnosis.

Penegakan nutrition diagnosis sangat mempengaruhi bentuk nutrition intervensi yang akan diberikan, apakah diet yang sesuai dan tepat untuk si pasien.

Langkah terakhir adalah monitoring dan evaluasi sebagai dasar untuk kembali melakukan assessment gizi dan seterusnya, sehingga pasien dapat pelayanan gizi yang tepat dan sesuai.

Susah saatnyakah kita terapkan NCP ?

mwngutip blog sebelah

Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menangani aspek kuratif dan rehabilitatif disamping beberapa pelayanan kesehatan yang lain. Dalam pelaksanaannya dibagi dalam beberapa instalasi, diantaranya adalah instalasi gizi yang tidak hanya menangani manajemen sistem penyelenggaraan makanan, akan tetapi juga menangani asuhan gizi dan penelitian serta pengembangan. Pelayanan gizi rumah sakit meliputi empat hal penting yaitu asuhan Gizi rawat inap, asuhan gizi rawat jalan, penyelenggaraan makanan, dan penelitian dan pengembangan penerapan gizi.

Harus disadari bahwa gizi mempunyai peran yang tidak kecil terhadap tingkat kesembuhan dan lama perawatan pasien di rumah sakit yang akan berdampak pada meningkatnya biaya perawatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kurang gizi sedang pasien di rumah sakit mencapai 21 % sedangkan kurang gizi berat mencapai 10 %. (Detsky at.al, 1987) dan penyebab kematian utama balita di negara-negara berkembang adalah kurang gizi sebesar 54 %.

Masalah gizi pasien di rumah sakit akan berdampak pada banyak hal, yaitu gangguan syaraf, pembedahan, kanker, aids, kejiwaan, dan gangguan gastrointestinal. Pada sistem metabolism tubuh, kurang gizi berdampak pada beberapa perubahan penting diantaranya penurunan tingkat filtrasi pada glomerular yang terjadi di ginjal, gangguan pada pertahanan intestinal di lambung dan saluran cerna secara umum, perubahan pada farmakokinetik dan perubahan pada fungsi kardiak pada jantung.

Beberapa dampak diatas akan banyak merugikan berbagai pihak, tidak hanya pasien, tetapi pihak rumah sakit dan semua yang berperan dalam pelayanan di rumah sakit akan mendapat dampak dari masalah gizi ini.

Pelayan Gizi Terstandar

Ada beberapa model pelayanan gizi yang dapat diterapkan di rumah sakit dan beberapa institusi pelayanan gizi masyarakat, namun tidak semua model pelayanan tersebut terstandar. Minimal ada 3 model pelayanan gizi yang banyak dikembangkan di institusi pelayanan kesehatan.

Pertama, dibawah ini adalah diagram pelayanan gizi yang tidak direkomendasikan, dimana masing-masing profesi, yaitu dokter, perawat dan dietician (Ahli Gizi) menangani pasien masing-masing tanpa adanya hubungan dan koordinasi antar profesi dan seorang dietetsien menyiapkan makanan sesuai dengan pemahamannya tanpa adanya informasi keadaaan pasien dari dokter maupun perawat yang menanganinya.

Kedua, model pelayanan gizi yang kurang lebih sama dengan model pelayanan gizi yang pertama, tetapi bentuk pelayanan dilakukan dengan team yang dikenal dengan nutrition support team (NST) terdiri dari dokter, perawat, farmasis, dan dietician. Pada model kedua ini juga tidak ada koordinasi diantara masing-masing profesi dalam satu pelayanan terhadap satu pasien, akan tetapi sudah menerapkan proses pelayanan terstandar yang dikerjakan dalam satu team. Salah satu kelemahan dari model pelayanan ini adalah banyaknya profesi yang harus terlibat dalam satu pelayanan pasien. Penerapan model ini pada umumnya pada rumah sakit yang mempunyai SDM yang cukup banyak. Model ini sudah menerapkan proses asuhan gizi secara team yang dikenal dengan NCP.

Ketiga, adalah model yang juga direkomendasikan, dimana pelaksanaan pelayanan gizi dilakukan dalam satu team dengan melibatkan dokter, perawat dan dietician. Keterlibatan masing-masing profesi dalam model pelatanan ini sangat maksimal dan terjadi koordinasi antar profesi, sehingga dalam memutuskan bentuk pelayanan yang akan diberikan kepada pasien mempunyai tujuan yang sama.

Nutrition Care Process (NCP)

Ilmu gizi merupakan salah satu ilmu (scince) yang selalu berkembang sesuai dengan perkembangan penyakit dan sosial ekonomi, lingkungan dan budaya. Sejak tahun 1952, ilmu gizi sudah mulai banyak dikenal di kalangan pemerhati gizi di Indonesia dan tahun 1958 mulai dikenalkan istilah “empat sehat lima sempurna” oleh bapak gizi Indonesia, Poerwo Soedarmo yang selanjutnya seiring dengan kemajuan dan perkembangan ilmu kesehatan secara umum dan kajian-kajian ilmiah tentang gizi dan kesehatan muncullah saat ini istilah “Gizi Seimbang” dengan 13 Pesan Gizi-nya sebagai panduan bagi masyarakat Indonesia.

Disamping perkembangan ilmu gizi sebagai scince, ternyata perkembangan ilmu gizi tidak hanya pada aspek ilmiahnya saja, akan tetapi perkembangan juga menyentuh aspek prosedural dalam menegakkan aspek-aspek gizi hubungannya dengan kesehatan dan penyakit. Jika di kalangan profesi gizi sebelum tahun 2003 bahkan sampai saat ini masih banyak menggunakan model SOAP (Subyektif, Obyektif, Assesment dan Planning) dalam menegakkan dan mencari berbagai masalah-masalah gizi pada individu maupun masyarakat, maka saat ini sudah mulai dikembangkan NCP (Nutrition Care Process) sebagai salah satu model dalam menegakkan masalah-masalah gizi yang dikenal dengan ND (Nutrition Diagnosis). Meskipun istilah NCP dan ND masih belum familier di telinga para profesi gizi, namun saat ini profesi gizi mau tidak mau dituntut untuk mengetahui dan melaksanakan model ini sebagai panduan sekaligus mengangkat performance profesi gizi.

NCP adalah suatu metoda problem solving yang sistematis, menggunakan cara berpikir kritis dalam membuat keputusan menangani berbagai masalah yang berkaitan dengan gizi dan memberikan asuhan gizi yang aman, efektif dan berkualitas tinggi.

Sesuai dengan definisinya, NCP merupakan cara pemecahan masalah gizi yang sangat efektif dan sistematis, karena proses yang ditempuh dalam NCP melalui tahapan-tahapan yang terstruktur dan sistematis, dimana untuk menentukan pemecahan masalah gizi harus melalui 4 tahap dan masing-masing tahapan sangat diperlukan pemikiran yang kritis dan mendalam.

Tahapan yang harus ditempuh meliputi Assesment Nutrisi ( Nutrition Assesment),

Diagnosa Nutrisi ( Nutrition Diagnosis), Intervensi Nutrisi ( Nutrition Intervention) dan Monitoring dan Evaluasi ( Nutrition Monitoring and Evaluation). Keempat tahapan ini merupakan tahapan yang harus ditempuh dalam menangani masalah gizi dan hal ini akan memberikan arah kepada ahli gizi kemana pasien/klien harus ditangani. Masing-masing tahapan harus dilalui secara terstruktur dan sistematik. Nutrition diagnosis tidak dapat ditegakkan tanpa utrition assessment. Nutrition ntervention juga tidak dapat dilaksanakan sebelum jelas nutrition diagnosisnya, dan seterusnya. Intinya empat tahapan itu itu dilaksanakan secara cermat dan kritis, sehingga menghasilkan sebuah penanganan masalah gizi yang tepat dan sesuai dengan masalahnya.

Nutrition assessment meliputi berbagai data yang diperlukan untuk menegakkan nutrition diagnosis, seperti data laboratorium, data antropometri, data behavior, data anamnesa gizi, dan lain-lain yang dapat dijadikan acuan untuk menegakkan nutrition diagnosis.

Penegakan nutrition diagnosis sangat mempengaruhi bentuk nutrition intervensi yang akan diberikan, apakah diet yang sesuai dan tepat untuk si pasien.

Langkah terakhir adalah monitoring dan evaluasi sebagai dasar untuk kembali melakukan assessment gizi dan seterusnya, sehingga pasien dapat pelayanan gizi yang tepat dan sesuai.

Apa sudah waktunya terapkan NCP ?

mwngutip blog sebelah

Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menangani aspek kuratif dan rehabilitatif disamping beberapa pelayanan kesehatan yang lain. Dalam pelaksanaannya dibagi dalam beberapa instalasi, diantaranya adalah instalasi gizi yang tidak hanya menangani manajemen sistem penyelenggaraan makanan, akan tetapi juga menangani asuhan gizi dan penelitian serta pengembangan. Pelayanan gizi rumah sakit meliputi empat hal penting yaitu asuhan Gizi rawat inap, asuhan gizi rawat jalan, penyelenggaraan makanan, dan penelitian dan pengembangan penerapan gizi.

Harus disadari bahwa gizi mempunyai peran yang tidak kecil terhadap tingkat kesembuhan dan lama perawatan pasien di rumah sakit yang akan berdampak pada meningkatnya biaya perawatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kurang gizi sedang pasien di rumah sakit mencapai 21 % sedangkan kurang gizi berat mencapai 10 %. (Detsky at.al, 1987) dan penyebab kematian utama balita di negara-negara berkembang adalah kurang gizi sebesar 54 %.

Masalah gizi pasien di rumah sakit akan berdampak pada banyak hal, yaitu gangguan syaraf, pembedahan, kanker, aids, kejiwaan, dan gangguan gastrointestinal. Pada sistem metabolism tubuh, kurang gizi berdampak pada beberapa perubahan penting diantaranya penurunan tingkat filtrasi pada glomerular yang terjadi di ginjal, gangguan pada pertahanan intestinal di lambung dan saluran cerna secara umum, perubahan pada farmakokinetik dan perubahan pada fungsi kardiak pada jantung.

Beberapa dampak diatas akan banyak merugikan berbagai pihak, tidak hanya pasien, tetapi pihak rumah sakit dan semua yang berperan dalam pelayanan di rumah sakit akan mendapat dampak dari masalah gizi ini.

Pelayan Gizi Terstandar

Ada beberapa model pelayanan gizi yang dapat diterapkan di rumah sakit dan beberapa institusi pelayanan gizi masyarakat, namun tidak semua model pelayanan tersebut terstandar. Minimal ada 3 model pelayanan gizi yang banyak dikembangkan di institusi pelayanan kesehatan.

Pertama, dibawah ini adalah diagram pelayanan gizi yang tidak direkomendasikan, dimana masing-masing profesi, yaitu dokter, perawat dan dietician (Ahli Gizi) menangani pasien masing-masing tanpa adanya hubungan dan koordinasi antar profesi dan seorang dietetsien menyiapkan makanan sesuai dengan pemahamannya tanpa adanya informasi keadaaan pasien dari dokter maupun perawat yang menanganinya.

Kedua, model pelayanan gizi yang kurang lebih sama dengan model pelayanan gizi yang pertama, tetapi bentuk pelayanan dilakukan dengan team yang dikenal dengan nutrition support team (NST) terdiri dari dokter, perawat, farmasis, dan dietician. Pada model kedua ini juga tidak ada koordinasi diantara masing-masing profesi dalam satu pelayanan terhadap satu pasien, akan tetapi sudah menerapkan proses pelayanan terstandar yang dikerjakan dalam satu team. Salah satu kelemahan dari model pelayanan ini adalah banyaknya profesi yang harus terlibat dalam satu pelayanan pasien. Penerapan model ini pada umumnya pada rumah sakit yang mempunyai SDM yang cukup banyak. Model ini sudah menerapkan proses asuhan gizi secara team yang dikenal dengan NCP.

Ketiga, adalah model yang juga direkomendasikan, dimana pelaksanaan pelayanan gizi dilakukan dalam satu team dengan melibatkan dokter, perawat dan dietician. Keterlibatan masing-masing profesi dalam model pelatanan ini sangat maksimal dan terjadi koordinasi antar profesi, sehingga dalam memutuskan bentuk pelayanan yang akan diberikan kepada pasien mempunyai tujuan yang sama.

Nutrition Care Process (NCP)

Ilmu gizi merupakan salah satu ilmu (scince) yang selalu berkembang sesuai dengan perkembangan penyakit dan sosial ekonomi, lingkungan dan budaya. Sejak tahun 1952, ilmu gizi sudah mulai banyak dikenal di kalangan pemerhati gizi di Indonesia dan tahun 1958 mulai dikenalkan istilah “empat sehat lima sempurna” oleh bapak gizi Indonesia, Poerwo Soedarmo yang selanjutnya seiring dengan kemajuan dan perkembangan ilmu kesehatan secara umum dan kajian-kajian ilmiah tentang gizi dan kesehatan muncullah saat ini istilah “Gizi Seimbang” dengan 13 Pesan Gizi-nya sebagai panduan bagi masyarakat Indonesia.

Disamping perkembangan ilmu gizi sebagai scince, ternyata perkembangan ilmu gizi tidak hanya pada aspek ilmiahnya saja, akan tetapi perkembangan juga menyentuh aspek prosedural dalam menegakkan aspek-aspek gizi hubungannya dengan kesehatan dan penyakit. Jika di kalangan profesi gizi sebelum tahun 2003 bahkan sampai saat ini masih banyak menggunakan model SOAP (Subyektif, Obyektif, Assesment dan Planning) dalam menegakkan dan mencari berbagai masalah-masalah gizi pada individu maupun masyarakat, maka saat ini sudah mulai dikembangkan NCP (Nutrition Care Process) sebagai salah satu model dalam menegakkan masalah-masalah gizi yang dikenal dengan ND (Nutrition Diagnosis). Meskipun istilah NCP dan ND masih belum familier di telinga para profesi gizi, namun saat ini profesi gizi mau tidak mau dituntut untuk mengetahui dan melaksanakan model ini sebagai panduan sekaligus mengangkat performance profesi gizi.

NCP adalah suatu metoda problem solving yang sistematis, menggunakan cara berpikir kritis dalam membuat keputusan menangani berbagai masalah yang berkaitan dengan gizi dan memberikan asuhan gizi yang aman, efektif dan berkualitas tinggi.

Sesuai dengan definisinya, NCP merupakan cara pemecahan masalah gizi yang sangat efektif dan sistematis, karena proses yang ditempuh dalam NCP melalui tahapan-tahapan yang terstruktur dan sistematis, dimana untuk menentukan pemecahan masalah gizi harus melalui 4 tahap dan masing-masing tahapan sangat diperlukan pemikiran yang kritis dan mendalam.

Tahapan yang harus ditempuh meliputi Assesment Nutrisi ( Nutrition Assesment),

Diagnosa Nutrisi ( Nutrition Diagnosis), Intervensi Nutrisi ( Nutrition Intervention) dan Monitoring dan Evaluasi ( Nutrition Monitoring and Evaluation). Keempat tahapan ini merupakan tahapan yang harus ditempuh dalam menangani masalah gizi dan hal ini akan memberikan arah kepada ahli gizi kemana pasien/klien harus ditangani. Masing-masing tahapan harus dilalui secara terstruktur dan sistematik. Nutrition diagnosis tidak dapat ditegakkan tanpa utrition assessment. Nutrition ntervention juga tidak dapat dilaksanakan sebelum jelas nutrition diagnosisnya, dan seterusnya. Intinya empat tahapan itu itu dilaksanakan secara cermat dan kritis, sehingga menghasilkan sebuah penanganan masalah gizi yang tepat dan sesuai dengan masalahnya.

Nutrition assessment meliputi berbagai data yang diperlukan untuk menegakkan nutrition diagnosis, seperti data laboratorium, data antropometri, data behavior, data anamnesa gizi, dan lain-lain yang dapat dijadikan acuan untuk menegakkan nutrition diagnosis.

Penegakan nutrition diagnosis sangat mempengaruhi bentuk nutrition intervensi yang akan diberikan, apakah diet yang sesuai dan tepat untuk si pasien.

Langkah terakhir adalah monitoring dan evaluasi sebagai dasar untuk kembali melakukan assessment gizi dan seterusnya, sehingga pasien dapat pelayanan gizi yang tepat dan sesuai.

Pemuda Islam dan Penuntut Ilmu

Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaarakan wa Ta’ala seperti :

  1. Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.

    “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat? “[Al-Mujaadilah : 11]

  2. Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian “Thalibul Ilmi” (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya. Diantara perkara-perkara itu : a. [a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri. b. Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan “harta warisan” berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita.

Meminta bantuan dalam berpendapat dengan berpedoman pada perkataan dan pendapat Salaf, akan sangat membantu kita untuk menghilangkan berbagai kegelapan dan mengembalikan kita kepada sumber Islam yang murni, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahihah.

Sesuatu yang tidak tertutup bagi kalian bahwasannya aku hidup di suatu zaman yang mana kualami padanya dua perkara yang kontradiksi dan bertolak belakang, yaitu pada zaman dimana kaum muslimin, baik para syaikh maupun para penuntut ilmu, kaum awam ataupun yang memiliki ilmu, hidup dalam jurang taqlid, bukan saja pada madzhab, bahkan lebih dari itu bertaqlid pada nenek moyang mereka.

Sedangkan kami dalam upaya menghentikan sikap tersebut, mengajak manusia kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Demikian juga yang terjadi di berbagai negeri Islam. Ada beberapa orang tertentu yang mengupayakan seperti apa yang kami upayakan, sehingga kamipun hidup bagaikan “Ghuraba” (orang-orang asing) yang telah digambarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadits beliau yang telah dimaklumi, seperti :

“Sesungguhnya awal mula Islam itu sebagai suatu yang asing/aneh, dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing”

Dalam sebagian riwayat, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Mereka (al-Ghurabaa) adalah orang-orang shaleh yang jumlahnya sedikit sekeliling orang banyak, yang mendurhakai mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka” [Hadits Riwayat Ahmad]

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda :

“Mereka orang-orang yang memperbaiki apa yang telah di rusak oleh manusia dari Sunnah-Sunnahku sepeninggalku”.

Aku katakan : “Kami telah alami zaman itu, lalu kami mulai membangun sebuah pengaruh yang baik bagi dakwah yang di lakukan oleh mereka para ghuraba, dengan tujuan mengadakan perbaikan ditengah barisan para pemuda mukmin. Sehingga kami jumpai bahwa para pemuda beristiqomah dalam kesungguhan di berbagai negeri muslim, giat dalam berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mengetahui keshahihannya”.

Akan tetapi kegembiraan kami terhadap kebangkitan yang kami rasakan pada tahun-tahun terakhir tidak berlangsung lama. Kita telah dikejutkan dengan terjadinya sikap “berbalik”, dan perubahan yang dahsyat pada diri pemuda-pemuda itu, di sebagian negeri[1]. Sikap tersebut, hampir saja memusnahkan pengaruh dan buah yang baik sebagai hasil kebangkitan ini, apa penyebabnya? Di sinilah letak sebuah pelajaran penting, penyebabnya adalah karena mereka tertimpa oleh perasaan ujub (membanggakan diri) dan terperdaya oleh kejelasan bahwa mereka berada di atas ilmu yang shahih. Perasaan tersebut bukan saja diseputar para pemuda muslim yang terlantar, bahkan terhadap para ulama. Perasaan itu muncul tatkala merasa bahwa mereka memilki keunggulan dengan lahirnya kebangkitan ini, atas para ulama, ahli ilmu dan para syaikh yang bertebaran diberbagai belahan dunia Islam.

Sebagaimana merekapun tidak mensyukuri nikmat Allah Jalla Jalaluhu yang telah memberikan Taufik dan Petunjuk kepada mereka untuk mengenal ilmu yang benar beserta adab-adabnya. Mereka tertipu oleh diri mereka sendiri dan mengira sesungguhnya mereka telah berada pada status kedudukan dan posisi tertentu.

Merekapun mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak matang alias mentah, tidak berdiri diatas sebuah pemahaman yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka tampaklah fatwa-fatwa itu dari pendapat-pendapat yang tidak matang, lalu mereka mengira bahwasanya itulah ilmu yang terambil dari al-Qur’an dan as-Sunnah, maka mereka pun tersesat dengan pendapat-pendapat itu, dan juga menyesatkan banyak orang.

Suatu hal yang tidak sama bagi kalian, akibat dari itu semuanya muncullah sekelompok orang (“suatu jama’ah”) dibeberapa negeri Islam yang secara lantang mengkafirkan setiap jama’ah-jama’ah muslimin dengan filsafat-filsafat yang tidak dapat diungkapkan secara mendalam pada kesempatan yang secepat ini, apalagi tujuan kami pada kesempatan ini hanya untuk menasehati dan mengingatkan para penuntut ilmu dan para du’at (da’i).

Oleh sebab itu saya menasehati saudara-saudara kami ahli sunnah dan ahli hadits yang berada di setiap negeri muslim, agar bersabar dalam menuntut ilmu, hendaklah tidak terperdaya oleh apa yang telah mereka capai berupa ilmu yang dimilikinya. Pada hakekatnya mereka hanyalah mengikuti jalan, dan tidak hanya bersandar pada pemahaman-pemahaman murni mereka atau apa yang mereka sebut dengan “ijtihad mereka”.

Saya banyak mendengar pula dari saudara-saudara kami, mereka mengucapkan kalimat itu, dengan sangat mudah dan gampang tanpa memikirkan akibatnya : “Saya berijtihad”. Atau “Saya berpendapat begini” atau “Saya tidak berpendapat begitu”, dan ketika anda bertanya kepada mereka; Kamu berijtihad berdasarkan pada apa, sehingga pendapatmu begini dan begitu? Apakah kamu bersandar pada pemahaman al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta ijma’ (kesepakatan) para ulama dari kalangan Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya? Ataukah pendapatmu ini hanya hawa nafsu dan pemahaman yang pendek dalam menganalisa dan beristidlal (pengambilan dalil)?. Inilah realitanya, berpendapat berdasarkan hawa nafsu, pemahaman yang kerdil dalam menganalisa dan beristidlal. Ini semuanya dalam keyakinanku disebabkan karena perasaan ujub, kagum pada diri sendiri dan terperdaya.

Oleh sebab itu saya jumpai di dunia Islam sebuah fenomena (gejala) yang sangat aneh, tampak pada sebagian karya-karya tulis.

Fenomena tersebut tampak dimana seorang yang tadinya sebagai musuh hadits, menjadi seorang penulis dalam ilmu hadits supaya dikatakan bahwa dia memiliki karya dalam ilmu hadits. Padahal jika anda kembali melihat tulisannya dalam ilmu yang mulia ini, anda akan jumpai sekedar kumpulan nukilan-nukilan dari sini dan dari sana, lalu jadilah sebuah karya tersebut. Nah apakah faktor pendorongnya (dalam melakukan hal ini) wahai anak muda? Faktor pendorongnya adalah karena ingin tampak dan muncul di permukaan. Maka benarlah orang yang berkata.

“Perasaan cinta/senang untuk tampil akan mematahkan punggung (akan berakibat buruk)”

Sekali lagi saya menasehati saudara-saudaraku para penuntut ilmu, agar menjauhi segala perangai yang tidak Islami, seperti perasaan terperdaya oleh apa yang telah diberikan kepada mereka berupa ilmu, dan janganlah terkalahkan oleh perasaan ujub terhadap diri sendiri.

Sebagai penutup nasehat ini hendaklah mereka menasehati manusia dengan cara yang terbaik, menghindar dari penggunaan cara-cara kaku dan keras di dalam berdakwah, karena kami berkeyakinan bahwasanya Allah Jalla Jalaluhu ketika berfirman :

“Serulah manusia kejalan Rabbmu dengan hikmah dan peringatan yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik.” [An-Nahl : 125]

Bahwa sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu tidaklah mengatakannya kecuali dengan kebenaran (al-haq) itu, terasa berat oleh jiwa manusia, oleh sebab itu ia cenderung menyombongkan diri untuk menerimannya, kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Maka dari itu, jika di padukan antara beratnya kebenaran pada jiwa manusia plus cara dakwah yang keras lagi kaku, ini berarti menjadikan manusia semakin jauh dari panggilan dakwah, sedangkan kalian telah mengetahui sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Bahwasanya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan (manusia dari agama); beliau mengucapkan tiga kali”.

[Nasehat ini dinukil dari kitab “Hayat al-Albani” halaman : 452-455]

[Disalin dari Majalah : as-Salafiyah, edisi ke 5/Th 1420-1421. hal 41-48, dengan judul asli “Hukmu Fiqhil Waqi’ wa Ahammiyyatuhu”. Ashalah, diterjemahkan oleh Mubarak BM Bamuallim LC dalam Buku “Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan Ahli Hadits Abad ini”hal. 127-150 Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i.]

_________
Foote Note :
[1] Penyusun katakan : “Sebagaimana yang terjadi di negeri ini, munculnya beberapa gelintir manusia dengan berpakaian “Salafiyah”, memberikan kesan seolah-olah mereka mengajak kepada pemahaman Salaf, namum hakekatnya mereka adalah pengekor hawa nafsu dan perusak dakwah Salafiyah, akibatnya mereka hancur berkeping-keping, dan saling memakan daging temannya sendiri. Wal ‘iyadzu billahi, kami mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari nasib yang serupa

Dasari dengan Iman

Pada zaman khalifah Umar bin Khattab, seorang suami hendak menceraikan isterinya.Pesona kecantikan isterinya telah meredup sehingga ghairah cinta kepadanya pun mulai memudar. Umar memberikan nasehat, “Sungguh jelek niatmu. Apakah sebuah rumah tangga hanya dapat terbina dengan cinta? Di mana takwa dan janjimu kepada Allah? Di mana pula rasa malumu kepada-Nya? Bukankah kamu sebagai pasangan suami isteri, telah saling bercampur dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil perjanjian yang kuat?”

Nasehat Umar bin Khattab di atas menegaskan suatu fondasi yang harus dibangun dalam bangunan pernikahan, yaitu cinta kepada Allah bukan cinta kepada hawa nafsu. Sebab cinta kepada Allah akan melahirkan takwa, yang menjadikannya hati-hati mengarungi samudera kehidupan dalam rangka ketaatan kepada Allah. Cinta kepada Allah melahirkan rasa malu, yaitu malu berbuat maksiat kepada Allah dan malu akan keegoan diri. Dan cinta kepada Allah menjadikan seseorang selalu teringat dan terikat untuk memenuhi janjinya kepada Allah, salah satunya yaitu memperlakukan isteri sesuai dengan hukum Allah sebagai konsekuensi diperbolehkan mencampurinya secara halal.

Sedangkan cinta kepada hawa nafsu akan menghilangkan ruh dari bangunan pernikahan. Kenikmatan pernikahan hanya akan tercipta sepanjang terpenuhinya kebutuhan hawa nafsu, yang secara sunatullah, akan mengalami puncak pemenuhannya kemudian berangsur menurun dan menurun hingga ke titik nadhir dan mengalami kebosanan. Jika hawa nafsu tidak menemukan pemenuhannya, maka ia akan mencari “jalan lain” dengan perselingkuhan. Atau cerai dan nikah lagi, demikian seterusnya. Dan selamanya, tuntutan hawa nafsu itu tidak akan terpuaskan hingga ia berpisah dari jasadnya.

Cinta kepada Allah-lah yang menjaga rumah tangga menjadi rumah tangga yang produktif. Ibarat pohon, ia adalah pohon dengan akar yang kokoh menghujam, cabangnya menjulang ke langit, dan buahnya lezat dan terus berbuah sepanjang musim. Dikatakan bahwa bangunan pernikahan itu adalah setengah dien, sebab dengan membangun rumah tangga maka produktifitas amal kebaikan bisa ditumbuh-suburkan dan ditingkatkan. Rumah tangga adalah sarana untuk menyempurnakan keimanan kepada Allah dan jalan untuk menanam kebaikan di dunia dan mendulang pahala untuk kehidupan akhirat.

Dengan dasar cinta kepada Allah, maka jalan keluar atas permasalahan yang melilit pun diurai dalam bingkai keimanan. Ia tidak menjadi masalah yang ruwet karena dengan keimanan jiwa-jiwa akan menjadi lapang dan tidak terjebak oleh dorongan hawa nafsu yang selalu memprovokasi kepada keretakan rumah tangga.

Ada kisah menarik yang menjadi cerminan saya. Saya mendapatkan pelajaran berharga dari kisah ini. Seseorang bermaksud menghadap Umar bin khattab hendak mengadukan perangai buruk isterinya. Sesampai di pintu rumahnya, ia mendengar isteri Umar mengomeli Umar sang khalifah itu, sementara Umar sendiri hanya berdiam saja tanpa memberikan reaksi apa-apa. Di depan pintu rumah Umar itu, ia bergumam, “Kalau keadaan Amirul Mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan aku?” Ia pun beranjak pergi. Namun bersamaan dengan itu Umar keluar. Umar pun memanggilnya, “Ada keperluan penting?”

Ia menjawab, “Ya Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak mengadukan perihal isteriku lantaran suka memarahiku. Tetapi begitu mendengar isterimu sendiri berbuat seperti itu, maka aku bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata, kalau keadaan Amirul Mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku.”

Umar berkata, “Saudaraku, sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari isteriku karena adanya beberapa hak yang ada padanya. Ia selalu bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencuci pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku. Padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tenteram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan isteriku, karena itu aku menerima sekalipun dimarahi.”

Orang itu berkata, “Amirul Mukminin, demikian pulakah terhadap isteriku?” Jawab Umar, “Ya, terimalah marahnya karena yang dilakukan isterimu tidak akan lama, hanya sebentar saja.”

Kita sangat patut bercermin kepada Sahabat Umar -termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga-dalam menyikapi kehidupan berumah tangga.

Kini, betapa sering kita menyaksikan bangunan pernikahan yang retak hanya karena masing-masing merasa tidak dihargai, dibenci, dan dimarah-marahi. Terlebih jika seorang suami yang dimarah-marahi, pasti ia akan merasa harga dirinya menjadi rendah, malu, dan kemudian terdorong hatinya untuk pindah ke lain hati. Bukankah tidak sulit seorang laki-laki untuk melakukan hal itu?

Tetapi yang dilakukan Umar, seorang Amirul Mukminin kuat, keras pendirian, dan banyak ditakuti oleh musuh (termasuk oleh syaitan) itu -tidaklah demikian. Beliau sangat memahami konsekuensi dari perjanjian yang kuat (mistsaqan ghalidzan) itu. Beliau pun menyadari akan kebaikan-kebaikan yang dilakukan isterinya dan mengedepankan kebaikan-kebaikan itu di atas kelemahan-kelemahan yang beliau miliki.

Alangkah baiknya, demi melanggengkan bahtera pernikahan, seorang suami selalu mengingati kebaikan-kebaikan isterinya. Tanpa kebaikan seorang isteri, bisa jadi nafkah yang diberikan setiap bulan oleh seorang suami rasanya tidak akan pernah cukup. Seorang suami harus menggaji orang untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, menjaga anak-anak, dan pekerjaan lainnya. Seorang suami juga harus menyediakan fasilitas rumah, pakaian, makanan, dan kebutuhan lain dari isteri secara layak dan memadai. Pendek kata, tugas isteri adalah berhias dan melayani kita dengan sebaik-baiknya, yang lain (terutama mencari nafkah untuk optimalisasi tugas isteri tersebut) adalah tugas dan tanggungjawab suami.

Jika seorang suami merasa belum bisa mencukupi kebutuhan isteri, lebih-lebih sang isteri harus membanting tulang membantu suami mencari nafkah, maka selayaknya ia harus berkaca dari kelemahannya itu demi menumbuhkan penghargaan terhadap sang isteri. Tentu saja, sang isteri juga harus memahami bahwa dengan posisi lebihnya itu ia tidak bisa memaki seenak hati. Ia tetap dianjurkan taat kepada suami demi mendapatkan keridhaannya.

Muhammad Rizqon